Monday, September 14, 2015

Menggali Hikmah dari Robert Frost – The Road Not Taken



Robert Lee Frost adalah salah seorang penyair Amerika Serikat yang paling besar dan itu terbukti dengan empat kali menerima penghargaan Pulitzer.
Salah satu karya beliau yang membuat saya kagum adalah "The Road Not Taken

Robert Frost – The Road Not Taken


Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Belajar hidup bisa lewat media apapun, jika kita bijak. Dalam puisi ini sedikit yang saya pelajari yaitu tentang pilihan dalam hidup. 

Two roads diverged in a yellow wood merupakan kiasan tentang hidup ini memiliki pilihan. And sorry I could not travel both dan yang namanya pilihan harus dipilih salah satunya bukan untuk dijalani keduanya. Meskipun tak tahu hasilnya pilihan itu harus tetap diambil dan dijalani. Walaupun terkadang hasil yang diperoleh tak sesuai dengan harapan.

Then took the other, as just as fair, And having perhaps the better claim di kesempatan yang lain saat dihadapkan pilihan yang sama terkadang lebih memilih pilihan yang berbeda, berharap memperoleh hasil yang lebih baik. Had worn them really about the same Namun ternyata hasilnya pun sama.

Jika hasilnya sama mengapa harus memilih? Mungkin itu yang sering menjadi pertanyaan. In leaves no step had trodden black. Oh, I kept the first for another day! dan yang membedakan memang sering kali bukan apa yang diperoleh di garis akhirnya, melainkan apa saja yang kita peroleh di perjalan dan kebijaksanaan yang semakin bertambah saat membuat pilihan. Maukah menjadi pemilih pertama yang benar benar dari hasrat diri sendiri, atau hanya sekedar membuat pilihan karena pilihan itu sudah pernah dilewati banyak orang?

Two roads diverged in a wood, and I, I took the one less traveled by, And that has made all the difference. Dan saya mengambil jalan yang sedikit orang lalui, dan itu yang membuat semua perbedaan.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok” (QS. Lukman : 34)

Tak ada siapapun yang tau hasil yang diperoleh, tapi pilihan tetap harus diambil. Hasil akhir memang sudah ada yang menentukan, jadi apapun pilihannya jalani! Coba dipikirkan! ketika hasil sudah ada yang menentukan, lantas kau mau diam saja menunggu hasil itu? Bukankah lebih baik menikmati setiap liku jalan yang ada sembari membijaksanakan diri dalam proses “pengambilan” hasil itu? Dari pada hanya menunggu? Kalau kata para pendaki, “puncak hanya bonus”.

No comments:

Post a Comment