Friday, December 25, 2015

Menggali Hikmah Di Balik Lirik Lagu OK GO – Last Leaf


If you should be the last autumn leaf hanging from the tree …
I'll still be here waiting on the breeze to bring you down to me …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …

And if you should be the last seed in spring to venture forth a leaf …
I'll still be here waiting on the rain to warm your heart for me …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …

Di atas merupakan lirik sebuah lagu karya OK GO dengan judul “Last Leaf” dalam album ketiga mereka, OK GO – OF The Blue Colour of The Sky. Tak butuh waktu lama untuk mengerti maksud lagu ini. Ya, isinya tentang penantian. 

Lagu ini mengisahkan tentang penantian seseorang, menunggu yang dikasihinya. Dia tidak tau harus menunggu sampai kapan. Tapi dia rela menunggu, meski itu untuk selamanya. “Jika kamu adalah daun terakhir di musim gugur yang bergantung di pohon, Aku akan tetap di sini, menunggumu di antara angin untuk membawamu kepadaku. Dan jika itu butuh waktu selama, biarlah untuk selamanya. Dan jika kamu adalah benih terakhir yang akan menumbuhkan daun di musim semi, aku akan tetap di sini, menunggu di antara hujan untuk menghangatkan  hatimu untukku. Dan jika itu butuh waktu selama, biarlah untuk selamanya”. Kurang lebih terjemahan bebasnya seperti itu.

Banyak orang yang tidak suka menunggu. Menunggu itu bosan. Apalagi tidak tau harus menunggu sampai kapan. Setuju! Berarti lagu ini tidak patut dicontoh dong? Tidak juga!. Malah saya banyak terinspirasi dari lagu ini. Jika kita perhatikan baik-baik, dalam lagu ini apa yang dia lakukan ketika menunggu? Apakah hanya diam saja?

Menunggu akan membosankan jika hanya dilakukan dengan berdiam diri. Sembari menunggu, dia bersama angin mengusahakan untuk membawamu padanya. Sembari menunggu, di antara hujan dia mencoba menghangatkan hatimu untuknya. Itulah. Menunggu tidak akan membosankan jika selama proses menunggu tersebut kita senantiasa mengusahakan dan menjaga yang kita tunggu itu. Apapun itu. Usahakan dengan kerja kerasmu dan jaga dengan doamu.

Jika yang kamu tunggu adalah pekerjaan, ya bertebaranlah di muka bumi mencoba mencari tempat dimana kamu bisa dapat pekerjaan. Jaga juga dia dengan doamu, agar pekerjaan yang kamu tunggu itu adalah pekerjaan yang baik dan merupakan ladangmu pula dalam beribadah. Jika yang kamu tunggu adalah pasanganmu, ya cari yang terbaik, pilih diantara ribuan yang ada, usahakan. Dan jangan lupa juga doakan agar dia baik-baik di sana. Jangan berdiam diri saja! Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain) (QS. Al Insyirah: 7).


Dan terakhir, menurut saya sebenarnya menunggu itu tidak ada. Menunggu hanya alasan kita untuk dapat bermalas-malasan. Hanya kegiatan fiktif rekaan kita agar dapat menyalahkan hal lain apabila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. “Kenapa kamu telat? Nunggu teman saya Pak” dengan jawaban seperti itu yang disalahkan adalah temannya, padahal dia juga telat. Dengan menunggu seakan tanggung jawab kita berkurang, terbagi dengan yang ditunggu. Maukah kita berkorban mengambil tanggung jawab itu sendiri tanpa menyalahkan orang lain?. “Kenapa kamu telat? Tadi masih ada yang perlu saya lakukan Pak”. Semoga kita lebih bijaksana dalam menyikapi penantian.

Wednesday, December 23, 2015

Tentang Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana, bersama-Mu.
Tentang Kebahagiaan

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya, tentang hidup. Dalam tulisan sebelumnya dibahas jika sudah ada yang menggariskan hidup kita. Menetapkan tujuan dan tugas kita, sehingga kita cukup “sami’na wa atho’na”.

Lantas, apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Tentu saja boleh! Tapi sadarkan dirimu! Kebahagiaan apa yang kamu cari? Uang segudang tak menjamin orang bahagia, kedudukan tinggi juga, pun istri yang cantik belum tentu juga memberi kebahagiaan. Bisa jadi orang yang uangnya segudang merasa menderita karena tak bisa tidur, kwatir uangnya diambil. Juga orang yang berkedudukan tinggi yang kerap kali mendapat fitnah. Apalagi punya istri cantik yang kemanapun ketika diajak keluar semua mata meliriknya dan ingin menikungmu. Nah loh. 

Berarti agar bahagia kita jangan kaya, jangan berkuasa dan jangan punya istri cantik? Ndak gitu juga keles. Yang menurut saya lebih tepat yakni kita bisa merasakan bahagia dalam keadaan apa saja. Jadi dari pada mengusahakan objek yang dapat membuat bahagia, akan lebih baik jika mengusahakan subjeknya. Hati kita. Rasa kita.

Kebahagiaan itu soal rasa. Ingatkah ketika kita masih kecil, dengan sebuah permen saja bisa menghentikan tangis kita. Permen sudah cukup membuat kita bahagia. Bayangkan jika sekarang, ketika kalian menangis. Cukupkah sebuah permen menghapus air matamu? Katanya semakin dewasa, semakin bijak. Kenapa dulu bisa kok sekarang tidak?  Justru harusnya dengan semakin bertambah dewasa kita, kita tak butuh permen lagi untuk menghapus sedih kita. Kita tak butuh alasan untuk dapat berbahagia kapan saja, karena kitapun tak punya alasan untuk bersedih. Semua sudah digariskan Dia dan itu pasti yang paling baik untuk kita, itu yang harus senantiasa kita syukuri. "Yang terjadi pasti yang terbaik". Yakini itu. La tahzan.

Menurut saya tak penting itu sedih atau bahagia di dunia. Semua itu hanya fatamorgana yang diciptakan oleh perasaan kita saja. Selama kita senantiasa bersyukur, tak ada kesedihan yang bisa mendekati kita. Dan juga perlu diingat, kebahagiaan dunia belum tentu bisa mendekatkan kita dengan-Nya, pun kesedihan belum tentu membuat kita jauh dari-Nya. Sedih dan bahagia hanya hiasan dunia. Matipun tidak membawanya. Dan ketika kita dihidupkan lagi, itupun tidak ditanyakan. Jadi untuk apa meresahkannya. Kebahagiaan yang perlu dikejar hanya satu, dapat bertemu dengan-Nya. Nanti.

Dan terakhir yang harus ditanyakan, apa yang akan kita tinggalkan ketika mati? Begitu yang ditinggalkan cuma harta, ternyata harta buat rebutan anaknya, cuma itu peninggalan Anda? Bagaimana kita menjawab dihadapan Allah terhadap umur yang diberikan kepada kita? –untuk direnungkan-


Sekian pandangan saya tentang kebahagiaan. Tetap perlu diingat, saya bukan lulusan pondok, bukan ulama yang hafal banyak kitab apalagi seorang kyai. Saya hanya penulis amatir yang hanya ingin berbagi, salah milik saya, benar milik Allah. Jika ada yang tak sependapat monggo kita sharing J

Sunday, December 20, 2015

Tentang hidup manusia

Tentang hidup manusia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah tercipta, bahkan melebihi malaikat. Coba lihat ke cermin! Indah bukan? Itulah rupa manusia. Kita. Dan hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (KBBI) dan memiliki kehendak (untuk makhluk hidup). Tumbuhan dikatakan hidup karena ia ada, dan bergerak sesuai kehendaknya. Tapi batu tidak bisa dikatakan hidup karena walau mungkin bisa bergerak dengan menggelinding tapi itu bukan karena batunya yang ingin bergerak sendiri tapi ada yang menggelindingkannya. Itu perbedaan paling nyata antara hidup dan mati.

Oke, kenapa kita bisa hidup? Itu pertanyaan pembukanya. Mungkin semua (yang memeluk agama) setuju jika kita bisa hidup di dunia ini karena diberi roh oleh sang pencipta. Satu-satunya perbedaan antara yang mati dan yang hidup yakni roh tersebut. Orang hidup rohnya di badan, sedangkan orang mati rohnya sudah meninggalkan badan. Itu saja. Sehingga dalam kasus ini kesimpulannya, manusia diberi roh, manusia itu dihidupkan. Lantas pertanyaan utamanya yaitu, apa tujuan manusia dihidupkan?

Kebanyakan orang ingin memperoleh kebahagiaan dalam menjalani hidupnya di dunia. Semua pasti ingin bahagia. Dan tidak ada yang salah dengan kebahagiaan. Tapi ingat kawan, bagian yang sangat perlu digarisbawahi adalah manusia itu dihidupkan. Ibarat lampu yang dihidupkan untuk memberi penerangan, televisi dihidupkan untuk sarana hiburan, manusiapun dihidupkan dengan tugas tertentu. Tugas tersebut sudah digariskan oleh yang menghidupkan dan Dia punya kuasa seutuhnya terhadap yang dihidupkan. Jika televisi tak mampu menghibur, seketika kita mematikannya begitupun lampu ketika cahayanya sudah tak kita butuhkan lagi. Tak jauh beda dengan manusia, ada yang lebih memiliki kuasa terhadap hidup manusia dan jika manusia tak dapat menjalankan tugas yang telah diberikan kepadanya dengan baik, bersiap-siaplah menerima konsekuensi dari Dia yang telah menghidupkan.

“Kita hanya susunan hari-hari, kalau hari-hari itu berlalu, berlalu pula sebagian dirimu. Dan ketika semua hari-hari itu akan ditanya oleh Allah SWT kita mau jawab dengan apa?” ­–untuk direnungkan-

Maka dalam hidup, cukuplah. “SAMI’NA WA ATHO’NA, Kami dengar ya allah.. Langsung kami taati!”

Itu sedikit pandangan saya tentang hidup. Hanya untuk berbagi saja, mungkin bisa menambah sudut pandang pembaca blog ini. Dan bagi yang kurang sependapat mohon berkenan sharing juga pendapatnya, mungkin kita bisa ngopi bareng :v

Penutup: Lantas, apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Jawaban versi saya, akan saya bahas ditulisan berikutnya. InsyaAllah JJJ

Wednesday, December 9, 2015

Rizal Penembak Jitu

Rizal Penembak Jitu

Seperti biasa Rizal pulang sekolah mengayuh sepedanya. Rumahnya berada di suatu dusun terpencil di pulau yang terpencil pula. Hari ini dia pulang lebih awal karena ada kegiatan pelatihan bagi guru sekabupaten sehingga para siswa dipulangkan lebih awal. Karena masih pagi dia dan empat kawannya mencoba lewat rute lain, melewati jalan berbatu, bukan rute umum beraspal yang mampu dilewati kendaraan bermotor. Rute ini merupakan jalan pintas menuju kota tempat sekolahnya berada. Daripada mesti mengayuh 10 kilometer, mereka lebih memilih melewati jalan berbatu tersebut. Jalan pintas tersebut melewati savana yang luas mungkin sepanjang 2 kilometer yang berakhir pada beberapa tebing kapur. Dari tebing tersebut tinggal melewati sebuah danau untuk dapat sampai di desa mereka.
“Kamu yakin kita lewat sini Zal?” tanya Ririn. Ririn merupakan teman sekelas Rizal, dan di antara mereka dialah yang paling penakut.
“Santai saja, aku sudah beberapa kali melewati jalan ini bersama pamanku.” Saut Agus yang berada di depannya.
“Benar kata Agus, nggak perlu takut. Sekolah kita tepat di arah timur desa kita. Jadi kita tinggal lurus aja ke arah barat kalau mau pulang.” Tambah Rizal yang berada di samping Ririn.
Mereka berlima bersepeda membentuk formasi 2-3. Agus dan Ani di depan sementara di belakang ada Ririn, Rizal dan Andi. Sekarang mereka telah sampai di savana. Bagi mereka kecuali Agus, ini merupakan pengalaman pertama mereka melewati jalan ini. Dan kesan pertama yang mereka alami begitu mengesankan. Hamparan rumput dan belukar yang hijau kemuning sangat menenangkan mata mereka. Tapi semua itu hilang seketika ketika terdengar teriakan.
“HOY, PERGI DARI SITU!” tampak dari kejauhan di sebelah kanan mereka ada dua orang yang bergerak menuju arah mereka. Mereka mulai merasa cemas. Bagaimana tidak, satu dari dua orang tersebut menenteng senapan dan memakai kaca mata hitam seperti agen CIA hanya saja tidak memakai setelan jas sedangkan orang lainnya membawa sebilah parang yang besarnya mungkin sama dengan parang Patimura seperti di gambar uang 1000 rupiah. Secara spontan mereka langsung mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Dan seperti yang mereka duga, kedua orang itu mengejar mereka.
“Mereka pasti perampok dan penculik, ayo cepat kabur!” Teriak Rizal sambil terus mengayuh sepedanya. Di antara mereka, Rizal yang paling cepat dalam bersepeda, tanpa terasa dia sudah menyalip semua temannya dan berada di paling depan, kini formasi berubah. Tapi tiba-tiba Rizal melakukan akselerasi mendadak dan mengerem dengan sekuat tenaga. Alhasil sepedanya melakukan drift keren seperti di film Fast Furious: Tokyo Drift, sayangnya yang dikendarai Rizal adalah sepeda bukan mobil, jadi hasilnya tidak terlalu keren, malah membuat mata Rizal kelilipan terkena debu. Dan Rizal terjatuh tersungkur di tanah. Dia melihat ke belakang, tampak dua orang tersebut sudah cukup dekat, sekitar 50 meter dari posisinya dan hanya 30 meteran dari posisi teman-temannya, jarak yang sudah cukup untuk dapat menembak dengan tepat. Tapi yang lebih mengagetkan lagi di depan Rizal, mungkin 10 meter, terlihat seekor hewan berbulu coklat lebih besar dari tubuhnya dengan tajam menatapnya. Hewan itu yang membuat Rizal melakukan akselerasi yang gagal keren tadi.
“Apa yang harus aku lakukan? Di depanku ada singa yang siap menerkam, tapi di belakangku juga ada penjahat yang siap menembakkan senapannya kapan saja.” Pikir Rizal dalam hati. “Teriak minta tolong juga percuma, tidak ada siapapun di sini, andai aku bisa bertarung, andai aku bisa jurus ninja, andai aku bisa haki dan punya kekuatan buah iblis, apa yang bisa aku lakukan?”
Tiba-tiba hewan tersebut melompat.
Rizal pun dengan sigap berguling ke kiri sambil mengambil beberapa kerikil dengan tangan kanannya. Tangan kirinya melepas ketapel yang selalu dia kalungkan di lehernya . “Sekarang kami sedang terdesak, tidak masalah teman-temanku tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak mau mereka mati.” Pikirnya sambil masih dalam keadaan berguling. Sedikit pusing karena terus berguling dia akhirnya memutuskan berhenti.
“Terima ini Singa sialan, ini balasan untukmu yang membuatku jadi kelilipan.” Rizal melepas tembakan dengan ketapelnya dan  tepat mengenai mata sebelah kiri si singa. Tapi si singa masih dapat bertahan menerima serangan itu, dan dia melompat mencoba menerkam Rizal untuk kedua kalinya. Rizal langsung mengelak, kali ini dia tidak berguling, karena masih sedikit pusing. Dia melompat ke belakang. “Head Shoot!” kali ini tembakannya tepat mengenai pusat ubun-ubun singa. Singa langsung meraung kesakitan karena tembakan tersebut, kepala singa mengeluarkan banyak sekali darah. Namun singa tersebut masih bisa berdiri dan melompat mencoba menyerang Rizal lagi. Rizal ingat ketika dia bermain bola dan tidak sengaja tendangannya mengenai kemaluan Agus sehingga membuat Agus langsung kesakitan dan pingsan. Kali ini dia mengincar kemaluan si singa.
“Sial!” Saat singa melompat Rizal sadar jika singa tersebut adalah singa betina. Dia merasa kecewa. “Percuma bagian perempuan tidak sakit kalau kena bola waktu futsal” pikirnya. Dia mengincar bagian lain “Inilah tembakan terakhirku. Keselek Shoot!!” Rizal melepaskan tembakannya dan  batu sebagai peluru tersebut tepat masuk ke mulut singa dan masuk ke tenggorokannya. Singa tersebut keselek dan akhirnya batuk-batuk dan memilih untuk menyingkir dari  Rizal. Merasa sudah menang Rizal tertawa lepas mengolok-olok kepergian si singa, si singa tidak mengerti yang dikatakan Rizal dan dia tetap pergi dari tempat itu.
“Awas Zal, belakangmu!” Terdengar teriakan Ririn. Rizal langsung menoleh dan sadar kalau telah dibidik dengan senapan penjahat yang sempat terlupakan. Tidak terima karena dilupakan, si penjahat pun melepaskan tembakan. Secepat kilat Rizal membalas dengan ketapelnya. Tembakan Rizal tepat mengenai peluru yang melesat dan merubah arah peluru  sehingga tidak mengenainya. Batu tembakan Rizal yang mengenai peluru tersebut terpecah menjadi dua dan mengenai kedua penjahat tadi. “Kalian cepat pergi dari sana, biar aku yang hadapi, kalian pindahlah ke belakangku.” Teriak Rizal diikuti teman-temannya yang melanjutkan mengayuh sepeda melewati Rizal.
“Kamu hebat sekali Zal tadi, kami akan membantumu walaupun harus mempertaruhkan nyawa kami” kata Andi.
“Tidak teman, kalian pergilah, di sini sangat berbahaya” tolak Rizal
“Tapi Zal..” Agus menimpali, “Tidak! Akan lebih baik hanya satu orang yang mati daripada 5 orang, ceritakan kisahku ini pada anak-anakku nanti” saut Rizal.
Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Rizal dengan sedikit bingung bagaimana caranya menceritakan kisah ini pada anaknya Rizal. Rizal masih SD dan tidak punya anak. “Baiklah kalau itu keinginanmu kawan”  sambil berurai air mata mereka pergi meninggalkan Rizal sendirian. Benar-benar seperti drama.
Ternyata drama tersebut hanya ada di pikiran Rizal, teman-temannya tak satupun ada yang membantunya. Mereka berlalu meninggalkan Rizal tanpa drama. Sendirian menghadapi dua orang penjahat . Hiks. Rizal sedikit merasa kecewa.
Tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan.
“Door!” tembakan tersebut menyadarkan Rizal dari lamunannya. Tembakan tersebut berasal dari dua orang yang berada di belakang kawan-kawannya. “Apa yang mereka tembak? Kenapa teman-temanku masih ada di situ? Bukankan tadi mereka sudah kabur”
“Gedebuk!” terdengar suara sesuatu jatuh tersungkur. Ternyata itu suara kijang yang tergeletak terkena tembakan. Rizal baru tersadar. Jika dia barusan melamun. Di depannya tidak ada singa, hanya kijang yang sekarang telah tergeletak terkena tembakan tadi.
“Hey, kalian jangan di situ. Untung kijangnya belum kabur. Tadi kami memasang jebakan kijang di sana. Kijang ini sering merusak kebun kami” ucap orang yang membawa parang.


Rizal tersadar jika pertempuran barusan hanya fantasinya, dan teman-temannya yang meninggalkannya sendirian itupun hanya fantasi di dalam fantasinya. Dua orang yang membawa parang dan senapan tersebut hanya seorang pemburu, dan hewan di depannya tadi hanya kijang yang berubah menjadi singa di penglihatannya karena dia yang terlalu ketakutan. Akhirnya mereka meminta maaf kepada pemburu tersebut, dan melanjutkan perjalanan pulang ke desanya.

Monday, September 14, 2015

Menggali Hikmah dari Robert Frost – The Road Not Taken



Robert Lee Frost adalah salah seorang penyair Amerika Serikat yang paling besar dan itu terbukti dengan empat kali menerima penghargaan Pulitzer.
Salah satu karya beliau yang membuat saya kagum adalah "The Road Not Taken

Robert Frost – The Road Not Taken


Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Belajar hidup bisa lewat media apapun, jika kita bijak. Dalam puisi ini sedikit yang saya pelajari yaitu tentang pilihan dalam hidup. 

Two roads diverged in a yellow wood merupakan kiasan tentang hidup ini memiliki pilihan. And sorry I could not travel both dan yang namanya pilihan harus dipilih salah satunya bukan untuk dijalani keduanya. Meskipun tak tahu hasilnya pilihan itu harus tetap diambil dan dijalani. Walaupun terkadang hasil yang diperoleh tak sesuai dengan harapan.

Then took the other, as just as fair, And having perhaps the better claim di kesempatan yang lain saat dihadapkan pilihan yang sama terkadang lebih memilih pilihan yang berbeda, berharap memperoleh hasil yang lebih baik. Had worn them really about the same Namun ternyata hasilnya pun sama.

Jika hasilnya sama mengapa harus memilih? Mungkin itu yang sering menjadi pertanyaan. In leaves no step had trodden black. Oh, I kept the first for another day! dan yang membedakan memang sering kali bukan apa yang diperoleh di garis akhirnya, melainkan apa saja yang kita peroleh di perjalan dan kebijaksanaan yang semakin bertambah saat membuat pilihan. Maukah menjadi pemilih pertama yang benar benar dari hasrat diri sendiri, atau hanya sekedar membuat pilihan karena pilihan itu sudah pernah dilewati banyak orang?

Two roads diverged in a wood, and I, I took the one less traveled by, And that has made all the difference. Dan saya mengambil jalan yang sedikit orang lalui, dan itu yang membuat semua perbedaan.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok” (QS. Lukman : 34)

Tak ada siapapun yang tau hasil yang diperoleh, tapi pilihan tetap harus diambil. Hasil akhir memang sudah ada yang menentukan, jadi apapun pilihannya jalani! Coba dipikirkan! ketika hasil sudah ada yang menentukan, lantas kau mau diam saja menunggu hasil itu? Bukankah lebih baik menikmati setiap liku jalan yang ada sembari membijaksanakan diri dalam proses “pengambilan” hasil itu? Dari pada hanya menunggu? Kalau kata para pendaki, “puncak hanya bonus”.

Sunday, January 25, 2015

HANYA UNTUK ORANG CERDAS - Maududi Abdullah, Lc.




Allah Maha Mulia, Allah Maha Adil.
 Agama Allah turunkan…
 Bisa dipahami oleh orang cerdas, sebagaimana bisa dipahami oleh orang yang tidak cerdas.
 Ketika orang cerdas serius mempelajari agama,
 Dan ikhlas…
 Ia akan mudah memahami agamanya…
Ketika orang cerdas telalu MEMPERTUHANKAN kecerdasannya,
 terlalu MENGIDOLAKAN kecerdasannya.
 Dia SESAT dengan kecerdasannya itu.

Sehingga aqidah orang mukmin adalah..
 Apabila Allah yang berkata..
 Allah yang berbicara..
 Rosulullah yang berkata dan berbicara..
 SAMI’NA WA ATHO’NA
 Kami dengar ya allah..
 Langsung kami taati.
 Kami dengar ucapan rosul
Langsung kami taati.

BUKAN...
Kami dengar ya Allah..
 Kami dengar ucapan Rosul..
Kami analisa dulu pakai logika kami..
Kami analisa dulu pakai kecerdasan kami..
Baru kami atho’na.
BUKAN BEGITU!!

Campakkan kecerdasan Anda apabila sudah berhadapan dengan perkataan Allah dan Rosul.
Tak mungkin kecerdasan Anda,
Melebihi kebenaran yang diajarkan Allah,
Melebihi kebenaran yang diajarkan Rosulillah
GAK MUNGKIN!!
Campakkannya bukan jauh-jauh…

 Di belakang..
 Di belakang Al-Qur’an
Campakkan!!
Jangan di depannya.

Tuesday, January 13, 2015

Dari Seorang Teman



Dari seorang teman, yang mungkin telah mengubah jalan hidup dan kisah seseorang.

A: Pernahkah kamu merindukannya?
B: Tentu saja pernah
A: Kamu tidak pernah mencoba menghubunginya? SMS atau telpon mungkin?
B: Dulu pernah, tapi sampai sekarang terhitung sekitar dua tahun kami sama sekali tidak berhubungan.
A: Tidakkah kamu khawatir kepadanya?
B: Terkadang, tapi aku sudah yakin. Kalau pun tidak berjodoh, aku bisa apa?
A: Pernahkah kamu istikhorohkan dia?
B: Untuk apa? Aku belum berani, karena sekarang belum saatnya.

Sedikit perbincangan di atas, memang bukan murni kisah nyata dengan semua dialog-dialognya. Tapi perbincangan itu benar pernah terjadi. Dari si B, si A banyak belajar. Si A yang awalnya menemukan titik terang akan alur kisahnya dengan perempuan yang senantiasa senyumannya terekam di memori dia, kini merombak total alur kisah itu.

Sangat terlambat yang ia rasakan, dan ia sempat menyesal. Beberapa kalimat yang masih terngiang di pikirannya saat ini, “Kalaupun aku tau, lalu apa? Jika memang iya, aku bisa apa? Ini memang belum saatnya”. Beraninya dia meminta ditunjukkan jodohnya. Sekarang. Dia saja belum bisa apa-apa, kembali lagi, “jka memang iya, kau bisa apa sekarang hey?” Memang belum siap.

Untuk saat ini, cukuplah nama itu kau selipkan dalam doa-doamu. Usahakanlah sebaik-baiknya dengan menyiapkan masa depan terbaik untuk dia dan anak anakmu nanti melalui kerja kerasmu. Jika memang iya, entahlah~ sekarang kalian bisa apa?

Dari seorang teman.