Rizal Penembak Jitu
Seperti biasa Rizal pulang sekolah mengayuh sepedanya.
Rumahnya berada di suatu dusun terpencil di pulau yang terpencil pula. Hari ini
dia pulang lebih awal karena ada kegiatan pelatihan bagi guru sekabupaten
sehingga para siswa dipulangkan lebih awal. Karena masih pagi dia dan empat
kawannya mencoba lewat rute lain, melewati jalan berbatu, bukan rute umum beraspal
yang mampu dilewati kendaraan bermotor. Rute ini merupakan jalan pintas menuju
kota tempat sekolahnya berada. Daripada mesti mengayuh 10 kilometer, mereka
lebih memilih melewati jalan berbatu tersebut. Jalan pintas tersebut melewati
savana yang luas mungkin sepanjang 2 kilometer yang berakhir pada beberapa
tebing kapur. Dari tebing tersebut tinggal melewati sebuah danau untuk dapat
sampai di desa mereka.
“Kamu yakin kita lewat sini Zal?” tanya Ririn. Ririn
merupakan teman sekelas Rizal, dan di antara mereka dialah yang paling penakut.
“Santai saja, aku sudah beberapa kali melewati jalan ini
bersama pamanku.” Saut Agus yang berada di depannya.
“Benar kata Agus, nggak
perlu takut. Sekolah kita tepat di arah timur desa kita. Jadi kita tinggal
lurus aja ke arah barat kalau mau pulang.” Tambah Rizal yang berada di samping
Ririn.
Mereka berlima bersepeda membentuk formasi 2-3. Agus dan Ani
di depan sementara di belakang ada Ririn, Rizal dan Andi. Sekarang mereka telah
sampai di savana. Bagi mereka kecuali Agus, ini merupakan pengalaman pertama
mereka melewati jalan ini. Dan kesan pertama yang mereka alami begitu mengesankan.
Hamparan rumput dan belukar yang hijau kemuning sangat menenangkan mata mereka.
Tapi semua itu hilang seketika ketika terdengar teriakan.
“HOY, PERGI DARI SITU!” tampak dari kejauhan di sebelah
kanan mereka ada dua orang yang bergerak menuju arah mereka. Mereka mulai
merasa cemas. Bagaimana tidak, satu dari dua orang tersebut menenteng senapan
dan memakai kaca mata hitam seperti agen CIA hanya saja tidak memakai setelan
jas sedangkan orang lainnya membawa sebilah parang yang besarnya mungkin sama
dengan parang Patimura seperti di gambar uang 1000 rupiah. Secara spontan
mereka langsung mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Dan seperti yang mereka
duga, kedua orang itu mengejar mereka.
“Mereka pasti perampok dan penculik, ayo cepat kabur!”
Teriak Rizal sambil terus mengayuh sepedanya. Di antara mereka, Rizal yang
paling cepat dalam bersepeda, tanpa terasa dia sudah menyalip semua temannya
dan berada di paling depan, kini formasi berubah. Tapi tiba-tiba Rizal
melakukan akselerasi mendadak dan mengerem dengan sekuat tenaga. Alhasil
sepedanya melakukan drift keren seperti di film Fast Furious: Tokyo Drift,
sayangnya yang dikendarai Rizal adalah sepeda bukan mobil, jadi hasilnya tidak
terlalu keren, malah membuat mata Rizal kelilipan terkena debu. Dan Rizal
terjatuh tersungkur di tanah. Dia melihat ke belakang, tampak dua orang
tersebut sudah cukup dekat, sekitar 50 meter dari posisinya dan hanya 30
meteran dari posisi teman-temannya, jarak yang sudah cukup untuk dapat menembak
dengan tepat. Tapi yang lebih mengagetkan lagi di depan Rizal, mungkin 10
meter, terlihat seekor hewan berbulu coklat lebih besar dari tubuhnya dengan
tajam menatapnya. Hewan itu yang membuat Rizal melakukan akselerasi yang gagal
keren tadi.
“Apa yang harus aku lakukan? Di depanku ada singa yang siap
menerkam, tapi di belakangku juga ada penjahat yang siap menembakkan senapannya
kapan saja.” Pikir Rizal dalam hati. “Teriak minta tolong juga percuma, tidak
ada siapapun di sini, andai aku bisa bertarung, andai aku bisa jurus ninja,
andai aku bisa haki dan punya kekuatan buah iblis, apa yang bisa aku lakukan?”
Tiba-tiba hewan tersebut melompat.
Rizal pun dengan sigap berguling ke kiri sambil mengambil
beberapa kerikil dengan tangan kanannya. Tangan kirinya melepas ketapel yang
selalu dia kalungkan di lehernya . “Sekarang kami sedang terdesak, tidak
masalah teman-temanku tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak mau mereka mati.”
Pikirnya sambil masih dalam keadaan berguling. Sedikit pusing karena terus
berguling dia akhirnya memutuskan berhenti.
“Terima ini Singa sialan, ini balasan untukmu yang membuatku
jadi kelilipan.” Rizal melepas tembakan dengan ketapelnya dan tepat mengenai mata sebelah kiri si singa.
Tapi si singa masih dapat bertahan menerima serangan itu, dan dia melompat
mencoba menerkam Rizal untuk kedua kalinya. Rizal langsung mengelak, kali ini
dia tidak berguling, karena masih sedikit pusing. Dia melompat ke belakang.
“Head Shoot!” kali ini tembakannya tepat mengenai pusat ubun-ubun singa. Singa
langsung meraung kesakitan karena tembakan tersebut, kepala singa mengeluarkan
banyak sekali darah. Namun singa tersebut masih bisa berdiri dan melompat
mencoba menyerang Rizal lagi. Rizal ingat ketika dia bermain bola dan tidak
sengaja tendangannya mengenai kemaluan Agus sehingga membuat Agus langsung
kesakitan dan pingsan. Kali ini dia mengincar kemaluan si singa.
“Sial!” Saat singa melompat Rizal sadar jika singa tersebut adalah
singa betina. Dia merasa kecewa. “Percuma bagian perempuan tidak sakit kalau
kena bola waktu futsal” pikirnya. Dia mengincar bagian lain “Inilah tembakan
terakhirku. Keselek Shoot!!” Rizal melepaskan tembakannya dan batu sebagai peluru tersebut tepat masuk ke
mulut singa dan masuk ke tenggorokannya. Singa tersebut keselek dan akhirnya
batuk-batuk dan memilih untuk menyingkir dari
Rizal. Merasa sudah menang Rizal tertawa lepas mengolok-olok kepergian
si singa, si singa tidak mengerti yang dikatakan Rizal dan dia tetap pergi dari
tempat itu.
“Awas Zal, belakangmu!” Terdengar teriakan Ririn. Rizal
langsung menoleh dan sadar kalau telah dibidik dengan senapan penjahat yang
sempat terlupakan. Tidak terima karena dilupakan, si penjahat pun melepaskan
tembakan. Secepat kilat Rizal membalas dengan ketapelnya. Tembakan Rizal tepat
mengenai peluru yang melesat dan merubah arah peluru sehingga tidak mengenainya. Batu tembakan
Rizal yang mengenai peluru tersebut terpecah menjadi dua dan mengenai kedua
penjahat tadi. “Kalian cepat pergi dari sana, biar aku yang hadapi, kalian
pindahlah ke belakangku.” Teriak Rizal diikuti teman-temannya yang melanjutkan
mengayuh sepeda melewati Rizal.
“Kamu hebat sekali Zal tadi, kami akan membantumu walaupun
harus mempertaruhkan nyawa kami” kata Andi.
“Tidak teman, kalian pergilah, di sini sangat berbahaya” tolak
Rizal
“Tapi Zal..” Agus menimpali, “Tidak! Akan lebih baik hanya
satu orang yang mati daripada 5 orang, ceritakan kisahku ini pada anak-anakku
nanti” saut Rizal.
Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Rizal dengan
sedikit bingung bagaimana caranya menceritakan kisah ini pada anaknya Rizal.
Rizal masih SD dan tidak punya anak. “Baiklah kalau itu keinginanmu kawan” sambil berurai air mata mereka pergi
meninggalkan Rizal sendirian. Benar-benar seperti drama.
Ternyata drama tersebut hanya ada di pikiran Rizal,
teman-temannya tak satupun ada yang membantunya. Mereka berlalu meninggalkan
Rizal tanpa drama. Sendirian menghadapi dua orang penjahat . Hiks. Rizal
sedikit merasa kecewa.
Tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan.
“Door!” tembakan tersebut menyadarkan Rizal dari lamunannya.
Tembakan tersebut berasal dari dua orang yang berada di belakang
kawan-kawannya. “Apa yang mereka tembak? Kenapa teman-temanku masih ada di
situ? Bukankan tadi mereka sudah kabur”
“Gedebuk!” terdengar suara sesuatu jatuh tersungkur.
Ternyata itu suara kijang yang tergeletak terkena tembakan. Rizal baru
tersadar. Jika dia barusan melamun. Di depannya tidak ada singa, hanya kijang
yang sekarang telah tergeletak terkena tembakan tadi.
“Hey, kalian jangan di situ. Untung kijangnya belum kabur.
Tadi kami memasang jebakan kijang di sana. Kijang ini sering merusak kebun
kami” ucap orang yang membawa parang.
Rizal tersadar jika pertempuran barusan hanya fantasinya,
dan teman-temannya yang meninggalkannya sendirian itupun hanya fantasi di dalam
fantasinya. Dua orang yang membawa parang dan senapan tersebut hanya seorang
pemburu, dan hewan di depannya tadi hanya kijang yang berubah menjadi singa di
penglihatannya karena dia yang terlalu ketakutan. Akhirnya mereka meminta maaf
kepada pemburu tersebut, dan melanjutkan perjalanan pulang ke desanya.