![]() |
| Album cover Efek Rumah Kaca (2007). Sumber: wiki |
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi
Ketika rindu, menggebu-gebu
Kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Ketika rindu, menggebu-gebu
Kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu kian membelenggu
Cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja
Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap, lalu hati kita gelap
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Bait-bait di atas bukanlah
puisi. Bagi yang belum tau, itu merupakan lirik lagu band indie, (favorit saya)
Efek Rumah Kaca. Judulnya anti mainstearm, Jatuh Cinta Itu Biasa. Lagu
ini merupakan single pertama di album debut self titled mereka, Efek Rumah Kaca
(2007).
Pada artikel kali ini, saya
akan coba mengungkap makna tersirat maupun tersurat dalam lagu lama ini menurut
versi saya, karena saya belum menyempatkan diri bertanya langsung pada
pengarangnya. Hahahaa. Sebelum ke makna lagu, sedikit tentang band satu ini, luar biasa merupakan frase yang pas
untuk menggambarkan band ini. “Di
tiap lagu yang mereka himpun, komposisi dirancang sebangun bersama tema. Realita
di reka-reka. Supaya musik lalu tak hanya jadi hiburan, refleksi ada, realita
juga disampaikan. Memotret zaman. Lirik ditata, kadang puitis, ada juga yang
kontan di muka. Dengan berbagai sudut pandang, dan kekayaan pilihan kata Bahasa
Indonesia.” Itu kutipan paragraf yang saya ambil dari situs resmi mereka
beberapa waktu yang lalu. Oke lanjut ke pemaknaan.
Judul “Jatuh Cinta Itu Biasa
Saja”.
Singkat cerita, judulnya
mencoba mengkritisi penyikapan kaum muda saat ini yang terlalu men”dewa”kan
cinta. “Ayolah bro, hidup tak hanya cinta doang isinya. Hidupmu bisa lebih
bermanfaat daripada hanya memikirkan cinta melulu.” Mungkin itu yang mau mereka
sampaikan. Entahlah..
Bait pertama hanya pembuka.
Ya. Pembuka yang luar biasa, menegaskan judul. Penegasan melalui kata hanya di baris pertama disambung
kata tak perlu di baris
selanjutnya. Tapi dengan cinta yang dibatasi hanya dan tak perlu apakah membuatnya tak
menarik lagi??
Terjawab di bait
selanjutnya. Kata tak dan tapi yang menjawabnya. Meski tak meminta maaf tapi saling mengerti (semoga), tak hanya menjalani cinta tapi menghidupi (semoga). Mungkin
inilah yang mereka namakan kedewasaan dalam menjalin hubungan, keterbatasan tak
menghalangi untuk bisa saling mengerti dan cinta bukan sekedar dijalani sebagai
pengisi waktu kosong, melainkan menghidupi dengan cinta. Sedangkan dua baris
terakhir bait ini (entahlah) menyatakan rindu itu pasti ada dalam cinta, dan
merupakan bagian tak terpisahkan. Dan saat merindu, kita (?) “menunggu”. Benar,
menunggu untuk dipertemukan dan menunggu sampai siap untuk mempertemukan diri.
Beberapa lirik selanjutnya
merupakan pengulangan lirik sebelumnya. Terdapat satu lirik lagi yang
ditempatkan setelah kerinduan, yaitu kecemburuan. Cinta pun tak luput dari
cemburu. Dan saat cemburu, yasudahlah. Mau cemburu sampai kapan? Benar sekali,
cemburu cepat berlalu. Itu hanya perasaan sesaat yang mengindikasikan kita
merasa tidak ingin kehilangan, dan justru lucu jika cinta hilang disebabkan
cemburu. Itu sama saja dengan membuang benda
yang kau sendiri tidak ingin kehilangannya. Entahlah..
Dan bait selanjutnya
merupakan puncak lagu ini (mungkin). Pesan mereka untuk kaum yang dibutakan
oleh cinta, “Cinta itu nggak buta bro, kalian yang terbutakan karena
mendewakannya, makanya mata kalian gelap, hati kalian gelap, kalian tersesat.
Padahal di luar sana banyak orang yang jalannya di arahkan oleh cinta menuju
kebahagian, matanya diterangkan, hatinya diterangkan”.
Kesimpulan (menurut saya). Memang jatuh cinta itu biasa saja, dan kita harus membiasakan diri hidup
dengan cinta. Dan saat cinta terjatuhkan, itu benar benar biasa, yang luar
biasa adalah mengistiqomahkan diri menjaga dan menghidupi cinta itu agar terus
ada. Menempatkannya di jalan yang tepat, yang dapat membawa kita ke jalan-Nya.
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
.. dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” Surat Ar-Rum (30)
:21,
Dan semoga cinta yang ada di
hatimu, tetap kau istiqomahkan melalui doa-doamu, sehingga ketika puncak rindu
itu datang kita benar-benar tersiapkan untuk bertemu dan menghidupi rasa yang
diamanahkan oleh-Nya ini agar selalu dalam rahmat dan jalan-Nya. Aamiinn
