Sunday, December 28, 2014

Jatuh Cinta Itu Biasa

Album cover Efek Rumah Kaca (2007). Sumber: wiki
Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi
Ketika rindu, menggebu-gebu
Kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti

Ketika rindu, menggebu-gebu
Kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu kian membelenggu
Cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja
Jatuh cinta itu biasa saja

Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap, lalu hati kita gelap

Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja
Kita jatuh cinta itu biasa saja

Bait-bait di atas bukanlah puisi. Bagi yang belum tau, itu merupakan lirik lagu band indie, (favorit saya) Efek Rumah Kaca.  Judulnya anti mainstearm, Jatuh Cinta Itu Biasa. Lagu ini merupakan single pertama di album debut self titled mereka, Efek Rumah Kaca (2007).
Pada artikel kali ini, saya akan coba mengungkap makna tersirat maupun tersurat dalam lagu lama ini menurut versi saya, karena saya belum menyempatkan diri bertanya langsung pada pengarangnya. Hahahaa. Sebelum ke makna lagu, sedikit tentang band satu ini, luar biasa merupakan frase yang pas untuk menggambarkan band ini. “Di tiap lagu yang mereka himpun, komposisi dirancang sebangun bersama tema. Realita di reka-reka. Supaya musik lalu tak hanya jadi hiburan, refleksi ada, realita juga disampaikan. Memotret zaman. Lirik ditata, kadang puitis, ada juga yang kontan di muka. Dengan berbagai sudut pandang, dan kekayaan pilihan kata Bahasa Indonesia.” Itu kutipan paragraf yang saya ambil dari situs resmi mereka beberapa waktu yang lalu. Oke lanjut ke pemaknaan.
Judul “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”.
Singkat cerita, judulnya mencoba mengkritisi penyikapan kaum muda saat ini yang terlalu men”dewa”kan cinta. “Ayolah bro, hidup tak hanya cinta doang isinya. Hidupmu bisa lebih bermanfaat daripada hanya memikirkan cinta melulu.” Mungkin itu yang mau mereka sampaikan. Entahlah..
Bait pertama hanya pembuka. Ya. Pembuka yang luar biasa, menegaskan judul. Penegasan melalui kata hanya di baris pertama disambung kata tak perlu di baris selanjutnya. Tapi dengan cinta yang dibatasi hanya dan  tak perlu apakah membuatnya tak menarik lagi??
Terjawab di bait selanjutnya. Kata tak dan tapi yang menjawabnya. Meski tak meminta maaf tapi saling mengerti (semoga), tak hanya menjalani cinta tapi menghidupi (semoga). Mungkin inilah yang mereka namakan kedewasaan dalam menjalin hubungan, keterbatasan tak menghalangi untuk bisa saling mengerti dan cinta bukan sekedar dijalani sebagai pengisi waktu kosong, melainkan menghidupi dengan cinta. Sedangkan dua baris terakhir bait ini (entahlah) menyatakan rindu itu pasti ada dalam cinta, dan merupakan bagian tak terpisahkan. Dan saat merindu, kita (?) “menunggu”. Benar, menunggu untuk dipertemukan dan menunggu sampai siap untuk mempertemukan diri.
Beberapa lirik selanjutnya merupakan pengulangan lirik sebelumnya. Terdapat satu lirik lagi yang ditempatkan setelah kerinduan, yaitu kecemburuan. Cinta pun tak luput dari cemburu. Dan saat cemburu, yasudahlah. Mau cemburu sampai kapan? Benar sekali, cemburu cepat berlalu. Itu hanya perasaan sesaat yang mengindikasikan kita merasa tidak ingin kehilangan, dan justru lucu jika cinta hilang disebabkan cemburu. Itu sama saja dengan membuang benda yang kau sendiri tidak ingin kehilangannya. Entahlah..
Dan bait selanjutnya merupakan puncak lagu ini (mungkin). Pesan mereka untuk kaum yang dibutakan oleh cinta, “Cinta itu nggak buta bro, kalian yang terbutakan karena mendewakannya, makanya mata kalian gelap, hati kalian gelap, kalian tersesat. Padahal di luar sana banyak orang yang jalannya di arahkan oleh cinta menuju kebahagian, matanya diterangkan, hatinya diterangkan”.
Kesimpulan (menurut saya). Memang jatuh cinta itu biasa saja, dan kita harus membiasakan diri hidup dengan cinta. Dan saat cinta terjatuhkan, itu benar benar biasa, yang luar biasa adalah mengistiqomahkan diri menjaga dan menghidupi cinta itu agar terus ada. Menempatkannya di jalan yang tepat, yang dapat membawa kita ke jalan-Nya.
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
.. dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”  Surat Ar-Rum (30) :21,
Dan semoga cinta yang ada di hatimu, tetap kau istiqomahkan melalui doa-doamu, sehingga ketika puncak rindu itu datang kita benar-benar tersiapkan untuk bertemu dan menghidupi rasa yang diamanahkan oleh-Nya ini agar selalu dalam rahmat dan jalan-Nya. Aamiinn

No comments:

Post a Comment