If you should be the last autumn leaf hanging from the tree …
I'll still be here waiting on the breeze to bring you down to me …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if you should be the last seed in spring to venture
forth a leaf …
I'll still be here waiting on the rain to warm your heart for me …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
And if it takes forever …
Forever it'll be …
Di atas merupakan lirik sebuah lagu karya OK GO dengan judul
“Last Leaf” dalam album ketiga mereka, OK GO – OF The Blue Colour of The Sky. Tak butuh waktu lama untuk mengerti maksud lagu ini. Ya,
isinya tentang penantian.
Lagu ini mengisahkan tentang penantian seseorang,
menunggu yang dikasihinya. Dia tidak tau harus menunggu sampai kapan. Tapi dia
rela menunggu, meski itu untuk selamanya. “Jika kamu adalah daun terakhir di
musim gugur yang bergantung di pohon, Aku akan tetap di sini, menunggumu di
antara angin untuk membawamu kepadaku. Dan jika itu butuh waktu selama, biarlah
untuk selamanya. Dan jika kamu adalah benih terakhir yang akan menumbuhkan daun
di musim semi, aku akan tetap di sini, menunggu di antara hujan untuk
menghangatkan hatimu untukku. Dan jika itu
butuh waktu selama, biarlah untuk selamanya”. Kurang lebih terjemahan bebasnya
seperti itu.
Banyak orang yang tidak suka menunggu. Menunggu itu bosan.
Apalagi tidak tau harus menunggu sampai kapan. Setuju! Berarti lagu ini tidak
patut dicontoh dong? Tidak juga!. Malah saya banyak terinspirasi dari lagu ini.
Jika kita perhatikan baik-baik, dalam lagu ini apa yang dia lakukan ketika
menunggu? Apakah hanya diam saja?
Menunggu akan membosankan jika hanya dilakukan dengan
berdiam diri. Sembari menunggu, dia bersama angin mengusahakan untuk membawamu
padanya. Sembari menunggu, di antara hujan dia mencoba menghangatkan hatimu
untuknya. Itulah. Menunggu tidak akan membosankan jika selama proses menunggu
tersebut kita senantiasa mengusahakan dan menjaga yang kita tunggu itu. Apapun
itu. Usahakan dengan kerja kerasmu dan jaga dengan doamu.
Jika yang kamu tunggu adalah pekerjaan, ya bertebaranlah di
muka bumi mencoba mencari tempat dimana kamu bisa dapat pekerjaan. Jaga juga
dia dengan doamu, agar pekerjaan yang kamu tunggu itu adalah pekerjaan yang
baik dan merupakan ladangmu pula dalam beribadah. Jika yang kamu tunggu adalah
pasanganmu, ya cari yang terbaik, pilih diantara ribuan yang ada, usahakan. Dan
jangan lupa juga doakan agar dia baik-baik di sana. Jangan berdiam diri saja! Maka
apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk
(urusan yang lain) (QS. Al Insyirah: 7).
Dan terakhir, menurut saya sebenarnya menunggu itu tidak
ada. Menunggu hanya alasan kita untuk dapat bermalas-malasan. Hanya kegiatan
fiktif rekaan kita agar dapat menyalahkan hal lain apabila terjadi sesuatu yang
tidak sesuai dengan keinginan kita. “Kenapa kamu telat? Nunggu teman saya Pak”
dengan jawaban seperti itu yang disalahkan adalah temannya, padahal dia juga
telat. Dengan menunggu seakan tanggung jawab kita berkurang, terbagi dengan
yang ditunggu. Maukah kita berkorban mengambil tanggung jawab itu sendiri tanpa
menyalahkan orang lain?. “Kenapa kamu telat? Tadi masih ada yang perlu saya
lakukan Pak”. Semoga kita lebih bijaksana dalam menyikapi penantian.
Artikel terkait: Menggalih Hikmah dari Robert Frost - The Road Not Taken, Jatuh Cinta Itu Biasa
No comments:
Post a Comment