Sunday, December 20, 2015

Tentang hidup manusia

Tentang hidup manusia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah tercipta, bahkan melebihi malaikat. Coba lihat ke cermin! Indah bukan? Itulah rupa manusia. Kita. Dan hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (KBBI) dan memiliki kehendak (untuk makhluk hidup). Tumbuhan dikatakan hidup karena ia ada, dan bergerak sesuai kehendaknya. Tapi batu tidak bisa dikatakan hidup karena walau mungkin bisa bergerak dengan menggelinding tapi itu bukan karena batunya yang ingin bergerak sendiri tapi ada yang menggelindingkannya. Itu perbedaan paling nyata antara hidup dan mati.

Oke, kenapa kita bisa hidup? Itu pertanyaan pembukanya. Mungkin semua (yang memeluk agama) setuju jika kita bisa hidup di dunia ini karena diberi roh oleh sang pencipta. Satu-satunya perbedaan antara yang mati dan yang hidup yakni roh tersebut. Orang hidup rohnya di badan, sedangkan orang mati rohnya sudah meninggalkan badan. Itu saja. Sehingga dalam kasus ini kesimpulannya, manusia diberi roh, manusia itu dihidupkan. Lantas pertanyaan utamanya yaitu, apa tujuan manusia dihidupkan?

Kebanyakan orang ingin memperoleh kebahagiaan dalam menjalani hidupnya di dunia. Semua pasti ingin bahagia. Dan tidak ada yang salah dengan kebahagiaan. Tapi ingat kawan, bagian yang sangat perlu digarisbawahi adalah manusia itu dihidupkan. Ibarat lampu yang dihidupkan untuk memberi penerangan, televisi dihidupkan untuk sarana hiburan, manusiapun dihidupkan dengan tugas tertentu. Tugas tersebut sudah digariskan oleh yang menghidupkan dan Dia punya kuasa seutuhnya terhadap yang dihidupkan. Jika televisi tak mampu menghibur, seketika kita mematikannya begitupun lampu ketika cahayanya sudah tak kita butuhkan lagi. Tak jauh beda dengan manusia, ada yang lebih memiliki kuasa terhadap hidup manusia dan jika manusia tak dapat menjalankan tugas yang telah diberikan kepadanya dengan baik, bersiap-siaplah menerima konsekuensi dari Dia yang telah menghidupkan.

“Kita hanya susunan hari-hari, kalau hari-hari itu berlalu, berlalu pula sebagian dirimu. Dan ketika semua hari-hari itu akan ditanya oleh Allah SWT kita mau jawab dengan apa?” ­–untuk direnungkan-

Maka dalam hidup, cukuplah. “SAMI’NA WA ATHO’NA, Kami dengar ya allah.. Langsung kami taati!”

Itu sedikit pandangan saya tentang hidup. Hanya untuk berbagi saja, mungkin bisa menambah sudut pandang pembaca blog ini. Dan bagi yang kurang sependapat mohon berkenan sharing juga pendapatnya, mungkin kita bisa ngopi bareng :v

Penutup: Lantas, apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Jawaban versi saya, akan saya bahas ditulisan berikutnya. InsyaAllah JJJ

No comments:

Post a Comment