Tentang hidup manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah tercipta, bahkan
melebihi malaikat. Coba lihat ke cermin! Indah bukan? Itulah rupa manusia.
Kita. Dan hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana
mestinya (KBBI) dan memiliki kehendak (untuk makhluk hidup). Tumbuhan dikatakan
hidup karena ia ada, dan bergerak sesuai kehendaknya. Tapi batu tidak bisa
dikatakan hidup karena walau mungkin bisa bergerak dengan menggelinding tapi
itu bukan karena batunya yang ingin bergerak sendiri tapi ada yang
menggelindingkannya. Itu perbedaan paling nyata antara hidup dan mati.
Oke, kenapa kita bisa hidup? Itu pertanyaan pembukanya. Mungkin semua
(yang memeluk agama) setuju jika kita bisa hidup di dunia ini karena diberi roh
oleh sang pencipta. Satu-satunya perbedaan antara yang mati dan yang hidup yakni
roh tersebut. Orang hidup rohnya di badan, sedangkan orang mati rohnya sudah
meninggalkan badan. Itu saja. Sehingga dalam kasus ini kesimpulannya, manusia
diberi roh, manusia itu dihidupkan. Lantas pertanyaan utamanya yaitu, apa
tujuan manusia dihidupkan?
Kebanyakan orang ingin memperoleh kebahagiaan dalam menjalani hidupnya
di dunia. Semua pasti ingin bahagia. Dan tidak ada yang salah dengan
kebahagiaan. Tapi ingat kawan, bagian yang sangat perlu digarisbawahi adalah manusia
itu dihidupkan. Ibarat lampu
yang dihidupkan untuk memberi penerangan, televisi dihidupkan untuk sarana
hiburan, manusiapun dihidupkan dengan tugas tertentu. Tugas tersebut sudah
digariskan oleh yang menghidupkan dan Dia punya kuasa seutuhnya terhadap yang
dihidupkan. Jika televisi tak mampu menghibur, seketika kita mematikannya
begitupun lampu ketika cahayanya sudah tak kita butuhkan lagi. Tak jauh beda
dengan manusia, ada yang lebih memiliki kuasa terhadap hidup manusia dan jika
manusia tak dapat menjalankan tugas yang telah diberikan kepadanya dengan baik,
bersiap-siaplah menerima konsekuensi dari Dia yang telah menghidupkan.
“Kita
hanya susunan hari-hari, kalau hari-hari itu berlalu, berlalu pula sebagian dirimu.
Dan ketika semua hari-hari itu akan ditanya oleh Allah SWT kita mau jawab
dengan apa?” –untuk direnungkan-
Maka dalam hidup, cukuplah. “SAMI’NA WA ATHO’NA,
Kami dengar ya allah.. Langsung kami
taati!”
Itu sedikit pandangan saya tentang hidup. Hanya untuk berbagi saja,
mungkin bisa menambah sudut pandang pembaca blog ini. Dan bagi yang kurang
sependapat mohon berkenan sharing juga pendapatnya, mungkin kita bisa ngopi
bareng :v
Penutup: Lantas, apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Jawaban versi
saya, akan saya bahas ditulisan berikutnya. InsyaAllah JJJ
No comments:
Post a Comment