Tulisan ini
menyambung tulisan sebelumnya, tentang hidup. Dalam tulisan sebelumnya dibahas
jika sudah ada yang menggariskan hidup kita. Menetapkan tujuan dan tugas kita,
sehingga kita cukup “sami’na wa atho’na”.
Lantas,
apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Tentu saja boleh! Tapi sadarkan
dirimu! Kebahagiaan apa yang kamu cari? Uang segudang tak menjamin orang
bahagia, kedudukan tinggi juga, pun istri yang cantik belum tentu juga memberi
kebahagiaan. Bisa jadi orang yang uangnya segudang merasa menderita karena tak
bisa tidur, kwatir uangnya diambil. Juga orang yang berkedudukan tinggi yang
kerap kali mendapat fitnah. Apalagi punya istri cantik yang kemanapun ketika
diajak keluar semua mata meliriknya dan ingin menikungmu. Nah loh.
Berarti agar
bahagia kita jangan kaya, jangan berkuasa dan jangan punya istri cantik? Ndak
gitu juga keles. Yang menurut saya lebih tepat yakni kita bisa merasakan
bahagia dalam keadaan apa saja. Jadi dari pada mengusahakan objek yang dapat
membuat bahagia, akan lebih baik jika mengusahakan subjeknya. Hati kita. Rasa
kita.
Kebahagiaan
itu soal rasa. Ingatkah ketika kita masih kecil, dengan sebuah permen saja bisa
menghentikan tangis kita. Permen sudah cukup membuat kita bahagia. Bayangkan
jika sekarang, ketika kalian menangis. Cukupkah sebuah permen menghapus air
matamu? Katanya semakin dewasa, semakin bijak. Kenapa dulu bisa kok sekarang
tidak? Justru harusnya dengan semakin
bertambah dewasa kita, kita tak butuh permen lagi untuk menghapus sedih kita.
Kita tak butuh alasan untuk dapat berbahagia kapan saja, karena kitapun tak
punya alasan untuk bersedih. Semua sudah digariskan Dia dan itu pasti yang
paling baik untuk kita, itu yang harus senantiasa kita syukuri. "Yang terjadi pasti yang terbaik". Yakini itu. La tahzan.
Menurut saya
tak penting itu sedih atau bahagia di dunia. Semua itu hanya fatamorgana yang
diciptakan oleh perasaan kita saja. Selama kita senantiasa bersyukur, tak ada kesedihan yang bisa mendekati kita. Dan juga perlu diingat, kebahagiaan dunia belum tentu bisa
mendekatkan kita dengan-Nya, pun kesedihan belum tentu membuat kita jauh
dari-Nya. Sedih dan bahagia hanya hiasan dunia. Matipun tidak membawanya. Dan
ketika kita dihidupkan lagi, itupun tidak ditanyakan. Jadi untuk apa
meresahkannya. Kebahagiaan yang perlu dikejar hanya satu, dapat bertemu
dengan-Nya. Nanti.
Dan terakhir yang
harus ditanyakan, apa yang akan kita tinggalkan ketika mati? Begitu yang
ditinggalkan cuma harta, ternyata harta buat rebutan anaknya, cuma itu
peninggalan Anda? Bagaimana kita menjawab dihadapan Allah terhadap umur yang
diberikan kepada kita? –untuk direnungkan-
Sekian
pandangan saya tentang kebahagiaan. Tetap perlu diingat, saya bukan lulusan
pondok, bukan ulama yang hafal banyak kitab apalagi seorang kyai. Saya hanya
penulis amatir yang hanya ingin berbagi, salah milik saya, benar milik Allah.
Jika ada yang tak sependapat monggo kita sharing J

No comments:
Post a Comment