Wednesday, December 23, 2015

Tentang Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana, bersama-Mu.
Tentang Kebahagiaan

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya, tentang hidup. Dalam tulisan sebelumnya dibahas jika sudah ada yang menggariskan hidup kita. Menetapkan tujuan dan tugas kita, sehingga kita cukup “sami’na wa atho’na”.

Lantas, apakah kita tidak boleh mengejar kebahagiaan? Tentu saja boleh! Tapi sadarkan dirimu! Kebahagiaan apa yang kamu cari? Uang segudang tak menjamin orang bahagia, kedudukan tinggi juga, pun istri yang cantik belum tentu juga memberi kebahagiaan. Bisa jadi orang yang uangnya segudang merasa menderita karena tak bisa tidur, kwatir uangnya diambil. Juga orang yang berkedudukan tinggi yang kerap kali mendapat fitnah. Apalagi punya istri cantik yang kemanapun ketika diajak keluar semua mata meliriknya dan ingin menikungmu. Nah loh. 

Berarti agar bahagia kita jangan kaya, jangan berkuasa dan jangan punya istri cantik? Ndak gitu juga keles. Yang menurut saya lebih tepat yakni kita bisa merasakan bahagia dalam keadaan apa saja. Jadi dari pada mengusahakan objek yang dapat membuat bahagia, akan lebih baik jika mengusahakan subjeknya. Hati kita. Rasa kita.

Kebahagiaan itu soal rasa. Ingatkah ketika kita masih kecil, dengan sebuah permen saja bisa menghentikan tangis kita. Permen sudah cukup membuat kita bahagia. Bayangkan jika sekarang, ketika kalian menangis. Cukupkah sebuah permen menghapus air matamu? Katanya semakin dewasa, semakin bijak. Kenapa dulu bisa kok sekarang tidak?  Justru harusnya dengan semakin bertambah dewasa kita, kita tak butuh permen lagi untuk menghapus sedih kita. Kita tak butuh alasan untuk dapat berbahagia kapan saja, karena kitapun tak punya alasan untuk bersedih. Semua sudah digariskan Dia dan itu pasti yang paling baik untuk kita, itu yang harus senantiasa kita syukuri. "Yang terjadi pasti yang terbaik". Yakini itu. La tahzan.

Menurut saya tak penting itu sedih atau bahagia di dunia. Semua itu hanya fatamorgana yang diciptakan oleh perasaan kita saja. Selama kita senantiasa bersyukur, tak ada kesedihan yang bisa mendekati kita. Dan juga perlu diingat, kebahagiaan dunia belum tentu bisa mendekatkan kita dengan-Nya, pun kesedihan belum tentu membuat kita jauh dari-Nya. Sedih dan bahagia hanya hiasan dunia. Matipun tidak membawanya. Dan ketika kita dihidupkan lagi, itupun tidak ditanyakan. Jadi untuk apa meresahkannya. Kebahagiaan yang perlu dikejar hanya satu, dapat bertemu dengan-Nya. Nanti.

Dan terakhir yang harus ditanyakan, apa yang akan kita tinggalkan ketika mati? Begitu yang ditinggalkan cuma harta, ternyata harta buat rebutan anaknya, cuma itu peninggalan Anda? Bagaimana kita menjawab dihadapan Allah terhadap umur yang diberikan kepada kita? –untuk direnungkan-


Sekian pandangan saya tentang kebahagiaan. Tetap perlu diingat, saya bukan lulusan pondok, bukan ulama yang hafal banyak kitab apalagi seorang kyai. Saya hanya penulis amatir yang hanya ingin berbagi, salah milik saya, benar milik Allah. Jika ada yang tak sependapat monggo kita sharing J

No comments:

Post a Comment