Friday, July 29, 2016

The Empty Box and the Zeroth Maria : Prolog



The Empty Box and the Zeroth Maria

Kita dikelilingi oleh keputusasaan yang lembut, manis dan polos.

Prolog

Aku tidak sepenuhnya melupakan hal itu. Aku mungkin masih mengingat tempat ini, bahkan kadang membayangkan pemandangan ini, seperti yang aku lakukan sekarang.
Aku hanya bisa mengingat tempat ini melalui mimpi.
Benar----ini tidak seperti aku telah sepenuhnya melupakan tentang itu. Aku hanya tidak dapat menemukan tanda untuk membantuku mendapatkan kembali memori tentang pemandangan ini. Mungkin tidak ada yang bisa memicu ingatanku mengenai pemandangan ini. Tak ada satu pun di dunia ini yang menyerupai semua itu. Jika aku mencoba, aku pasti dapat mengingatnya, tapi aku tak punya cukup kesempatan untuk melakukannya.
Tak satu pun dari kehidupanku sehari-hari yang dapat mengingatkanku tentang orang seperti apa aku sebelumnya.
“Apa kamu punya sebuah keinginan?”
Wajah dari seorang yang dengan santainya menanyaiku pertanyaan itu masih selalu terbayang dengan tidak jelas dan berubah-ubah dari satu wajah ke wajah yang lainnya. Mimpiku itu dihasilkan oleh pikiran bawah sadarku, tapi entah mengapa, aku tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. Aku melihatnya, tentu----setidaknya, aku percaya telah melihatnya. Hanya saja wajah orang itu masih saja bercampur dengan wajah lain seketika, saat aku mencoba mengingatnya, entah kenapa.
Aku kira, aku memberi jawaban yang pasif dan umum dalam menjawab pertanyaanya, meskipun aku tak ingat betul bagaimana responku yang sesungguhnya pada waktu itu. Entah bagaimana, ketika dia mendengar jawabanku, aku dihadiahi sebuah wadah yang berisikan sesuatu.
“Ini adalah “kotak” yang dapat mengabulkan keinginan apapun”
Itu terlihat seperti sebuah kotak, seperti yang dia sebutkan tadi.
Aku menatap kotak itu. Pandanganku masih baik, tapi entah kenapa aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tak ada apapun dalam kotak itu, tapi ada perasaan aneh yang terlintas. Itu seperti memegang kotak kue kosong yang mengeluarkan bunyi berderik ketika kamu menggoncangnya seakan kotak itu ada isinya tapi ternyata kotak itu kosong.
“Mengapa kamu memberikan kotak ini padaku?
“Karena kamu sangat menarik! Aku tidak dapat mengenali dengan jelas antara satu manusia dengan manusia yang lainnya, meskipun aku tertarik dengan manusia. Ironi bukan?
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi aku mengangguk setengah hati tanpa memikirkan apapun.
“Tapi kamu adalah pengecualian. Aku dapat mengenalimu dari seluruh umat manusia yang ada. Kamu mungkin berpikir itu hal yang biasa saja, tapi itu lebih dari cukup untuk membuatku tertarik.
Aku melihat ke dalam kotak itu. Meskipun kotak itu kosong, tapi aku merasa seakan diserang oleh perasaan yang tidak mengenakkan dan seluruh tubuhku serasa ditarik menuju dasar kotak itu. Secepat mungkin aku berpaling dari kotak itu.
“Kotak ini akan mengabulkan keinginan apapun. Aku tidak peduli apa yang kamu inginkan----aku tidak akan menghentikanmu walaupun keinginanmu itu adalah menghancurkan seluruh peradaban umat manusia. Aku hanya tertarik denganmu, dengan spesiesmu, keinginan apa yang kamu pilih.”
Aku tidak merespon apapun, dan dia tersenyum.
“Hehe… Bukan, ini bukan semacam kekuatan spesial. Manusia sebenarnya telah mempunyai kemampuan untuk mengabulkan keinginan hanya dengan menjadikan keinginannya itu menjadi sebuah gambaran yang jelas. Aku hanya dapat memberi kekuatan yang berupa sedikit dorongan.”
Aku menerima kotak itu.
Tentu, aku tidak mengingat mimpi ini ketika aku bangun.
Tapi aku dapat dengan jelas mengingat apa yang aku pikirkan tentang dia. Tentang kesan yang sama yang aku dapat dari dia, dalam mimpiku.
Bagaimanapun juga, bukankah orang itu----
----aneh?
 

No comments:

Post a Comment