Friday, August 12, 2016

The Empty Box and the Zeroth Maria : Chapter 1



Pertama kali
“Saya Aya Otonashi. Senang berjumpa dengan kalian,” kata siswa pindahan dengan sedikit senyuman.

Ke-23 kali
“Saya Aya Otonashi, halo,” ucap si siswa pindahan dengan sedikit senyuman.

Ke-1050 kali
“Aya Otonashi,” ucap siswa pindahan tanpa memandang kami, serasa dia merasakan bosan yang luar biasa.

Ke-13118 kali
Aku melihat ke arah Aya Otonashi si siswa pindahan, yang mana aku belum mengetahui namanya, yang sedang berdiri di depan kelas.
“Aya Otonashi”
Gumam si siswa pindahan menyebutkan namanya pada semua orang di kelas dengan suara yang sangat pelan, seakan dia sama sekali tak peduli jika ada yang mengerti atau tidak. Meskipun, memang suaranya terdengar jelas.
—Yah. Entah bagaimana, aku sudah tahu namanya, meskipun aku baru mendengarnya untuk pertama kali.
Kami sedikit menahan nafas, bukan karena perkenalan singkatnya yang mungkin sulit dikategorikan sebagai sebuah perkenalan yang umum. Tapi itu mungkin karena dia benar-benar cantik. Dia menduduki peringkat nomor satu di kelas ini.
Aya Otonashi
Semua orang menunggu apa yang selanjutnya dia katakan.
Dia membuka bibirnya.
“Kazuki Hoshino.”
“… Hah?”
Dia memanggil namaku. Semua orang di kelas memandangkanku dengan penuh penasaran. Jangan memandangku seperti itu, aku tak mengerti maksud semua ini.
“Aku di sini untuk menghancurkanmu,” tiba-tiba dia membuat pernyataan. “Ini adalah kali ke 13118 aku melakukan school transfer. Biasanya aku akan merasa terganggu setelah melakukan banyak sekali ‘pengulangan’. Jadi untuk merubah suasana, aku akan mendeklarasikan perang kali ini.”
Dia bahkan sama sekali mengabaikan pandangan teman sekelasnya yang saat ini sangat keheranan dan menatap langsung ke arahku.
“Kozuki Hoshino. Aku akan membuatmu menyerah. Kamu sebaiknya segera memberikan ‘barang berhargamu’ sesegera mungkin. Bertahan sia-sia saja. Kenapa? Sederhana saja. Karena  aku akan—“

Aya Otonashi tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya.

“—selalu berada di sisimu, tak peduli berapa lama waktu terlewati.”

Ke-13118 kali
Sekarang tanggal 2 Maret. Hari ini seharusnya ‘2 Maret’. Mengapa aku mengkonfirmasi tanggal hari ini?
…Mungkin karena langit masih mendung, meskipun sekarang sudah bulan Maret. Itu hampir pasti. Aku sedikit melankolis karena cuacanya; akhir-akhir ini langit biru bersembunyi di balik awan kelabu.
Hmmm, aku bertanya dalam hati kapan cuaca akan berakhir cerah.
Aku sedang di dalam kelas sebelum pelajaran dimulai, memandang ke luar jendela, hanya pikiran kosong tentang sesuatu yang tidak penting.
Aku kira pikiran itu muncul karena hari ini aku merasa kurang sehat. Tidak, aku tidak merasa sakit. Aku merasa apa yang selalu aku rasakan. Aku hanya …tidak nyaman. Aku tak dapat menjelaskannya, tapi ini terasa seperti seolah-olah, aku tiba-tiba menjadi satu-satunya orang yang tidak memiliki banyangan. Itu lebih seperti ‘suatu kesalahan yang tak terasa’ yang membuatku tak nyaman.
…Aneh, aku tak bisa menemukan alasannya. Tak ada yang aneh terjadi kemarin, aku sarapan pagi ini, aku mendengarkan lagu favoritku selama di kereta, aku mendapat rating ‘cukup beruntung’ menurut acara meramal keberuntungan yang aku lihat di televisi.
Aku memutuskan untuk tidak merusak otakku lagi memikirkan lebih jauh hal itu dan mengambil camilan Umaibo dari tasku. Hari ini Umaibo rasa daging. aku mulai memakannya. Tak peduli seberapa banyak aku memakannya, aku tak pernah merasa bosan dengan rasanya.
“Kamu makan Umaibo lagi? Kamu beneran nggak bisa berhenti dari itu? Kalau kamu terus makan itu, darahmu bisa berubah jadi kayak warna Umaibo!”
“…ehhh… kayak apa warnanya?”
“Siapa yang tau!”
Perempuan yang bercanda denganku ini adalah teman sekelasku, Kokone Kirino. Rambut coklatnya, yang panjang dan sungguh panjang entah di bagian mana, terikat dengan model poni naik yang terlihat di belakang kepalanya. Kokone sering mengganti model rambutnya, sepertinya dia suka dengan model yang sekarang. Akhir-akhir ini aku merasa Kokone lekat dengan citra model rambut yang sekarang.
Seperti biasanya, Kokone duduk di sebelahku. Dia mulai berdandan, dibantu cermin dengan pegangan biru. Dia juga menggunakan alat-alat lain yang aku sebagai seorang laki-laki tak tahu apa itu. Aku harap dia melakukan usaha sebanyak ini untuk semua hal, tidak hanya untuk berdandan saja.
“Setelah kuperhatikan, kamu punya banyak barang berwarna biru ya?”
“Yup, Aku suka biru… Oh ya, Kazu-kun~ apakah ada sesuatu yang terlihat berbeda dariku hari ini?” Kokone tiba-tiba menanyakan hal tersebut dan memandangku dengan mata yang penuh antusias.
“Hmm…?”
Bagaimana aku bisa tau? Tak mungkin bagiku untuk meresponnya jika dia menanyakan itu secara tiba-tiba seperti ini.
“Aku akan memberimu petunjuk! Pusat daya tarikku telah berubah!”
“Eh?”
“Tentu saja mataku adalah pusat daya tarikku!”
“… Sory.”
Tak mungkin aku dapat tau tentang hal seperti itu, tapi aku yang akan minta maaf sekarang.
“…Lalu?”
Kokone melihat dengan penuh harap menatap mataku. Aku harus mengakui jika matanya sungguh besar. Aku merasa sedikit malu ketika menyadarinya.
“… Aku rasa wajahmu terlihat sama seperti biasanya…!?” Aku mengatakannya, tapi tidak benar-benar melihat ke arah wajahnya.
“Eh, Apa? Wajahku terlihat manis seperti biasanya, katamu?”
“Tidak, aku nggak mengatakannya.”
“Katakan itu!”
Aku dipaksa.
“Sebenarnya, hari ini aku menggunakan maskara. Bagaimana? Apa bagus?”
Aku tidak dapat melihat perbedaan apapun. Aku tidak dapat membedakan bagaimana dia terlihat di hari kemarin dengan dia yang sekarang di hadapanku.
“…nggak, nggak mungkin aku bisa menilai hal semacam itu,” aku bilang padanya dengan jujur—dan aku gagal dalam tesnya.
“Hal semacam itu kamu bilang!”
Dia memukulku.
“Duh…”
“Cih, kamu sungguh anak yang membosankan!” dia mengatakannya dengan suara yang terpaksa, mungkin dia juga marah. Kokone berpura-pura meludah ke arahku sambil berjalan memamerkan wajahnya yang dihiasi maskara kepada teman sekelasnya yang lain.
“Haa…”
Sekarang aku lelah. Kokone mungkin lucu, tapi sifat tempramennya itu sedikit menyusahkan.
“Selesai dengan pertengkaran sepasang kekasih itu?”
Hal yang pertama kulihat ketika aku berbalik adalah tiga buah tindik di telinga kanan. Hanya ada satu orang di sekolah ini yang menggunakannya.
“… Daiya. Itu bukan pertengkaran sepasang kekasih. Gimana mungkin kamu bisa menyimpulkan kayak gitu?”
Temanku, Daiya Oomine hanya menyeringai mendengar ucapanku. Yah, dia arogan seperti biasanya. Hmm, aku kira akan aneh jika seorang seperti Daiya merendah. Lagi pula, dia memilih menggunakan aksesoris ekstrim dan tidak hanya mengabaikan aturan sekolah malahan dengan bebas dia memamerkan pelanggarannya terhadap aturan tersebut.
“Tapi beneran kamu nggak sadar dengan maskaranya? Bahkan aku tau kalau ada yang beda. Dan aku beneran nggak tertarik sama dia”
“… serius?”
Mereka berdua saling bertetangga dan sudah berteman sejak TK. Dan ketidaktertarikan Daiya padanya tidak diragukan lagi adalah bohong. Hal itu telah terlihat, dan mungkin Daiya menyadarinya sebagai sebuah masalah. Bagaimanapun juga, dia benar-benar tipe orang yang tidak tertarik dan bahkan tidak memandang orang lain.
“… tapi, kamu tahu.”
Aku punya firasat jika dia memakai maskara itu seperti hari kemarin.
“Aku paham Kazu. Jadi kamu secara tak langsung bilang pada gadis itu kalau kamu tidak tertarik padanya. Aku setuju denganmu. Aku akan menirunya tapi akan kulakukan dengan lebih sadis.”
“Kamu ketua kelas yang kejam! Aku dapat dengan jelas mendengarmu dari sini!”
Daiya menghiraukan gadis berpendengaran tajam itu dan melanjutkan berbicara.
“Kazu, ayo berhenti membicarakan gadis aneh itu lagi—kamu tau ada siswa pindahan yang datang hari ini?
“Seorang siswa pindahan?”
Aku mengkonfirmasi lagi—hari ini tanggal 2 Maret. Mengapa ada seorang siswa yang pindah sekolah di akhir kelas seperti ini?
“Seorang siswa pindahan?? Sungguhan?”
Seperti yang kukira, Kokone mendengar pembicaraan kami dan menaikkan suaranya untuk bertanya sesuatu.
“Kiri. Aku nggak bicara denganmu. Jangan mengganggu dan jangan mendekat ke sini juga! Wajah putus asamu itu nggak bagus buat kesehatan mentalku”
“Ha—Apa?! Kamu harusnya ngaca Daiya! Kamu harus mulai merubah sifat tidak jujurmu itu sesegera mungkin. Mungkin kita harus menggantungmu terbalik selama 24 jam agar darah bisa mengalir ke otakmu dan membuatmu bisa berpikir! Mungkin kamu bisa mengatakan sesuatu yang lebih bermakna setelahnya.”
Untuk mengakhiri kebiasaan saling mengejek mereka, aku meninggikan suaraku dan kembali membahas topik awal pembicaraan.
“Seorang siswa pindahan kan? Aku rasa aku pernah mendengar tentang itu.”
Daiya menutup mulutnya dan mulai menatapku.
“… Siapa yang memberi tahumu?” dia bertanya dengan tatapan serius.
“Eh? Mengapa kamu ingin tau?”
“Jangan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan!”`
“Err… Siapa lagi? Bukankah kamu yang cerita padaku sebelumnya.”
“Mustahil. Aku baru saja tau ini saat kembali dari ruang guru barusan. Jadi nggak mungkin kamu bisa tau.”
“Sungguh?”
“Rumor ini tiba-tiba muncul dimana saja. Tapi meskipun begitu, tampaknya, Kiri, nggak tau soal ini.”
Daiya mungkin saja benar, dilihat dari reaksi kaget Kiri tadi. Dan tak hanya Kiri, tapi tampaknya semua anak kelas satu di ruang 1-6 tidak ada yang mengetahui hal ini.
“Itulah kenapa aku menyimpulkan kalau informasi ini sengaja dirahasiakan sampai hari ini, hari saat siswa pindahan itu datang. Tapi kalau begitu, bagaimana kamu bisa tau ini?”
“…Err?”
Aku pun ragu.
“ Hmm, entahlah. Tapi apa nggak aneh, Kazu? Kenapa ada siswa pindahan di akhir kelas kayak gini? Mungkin ada keadaan spesial yang menyebabkannya. Contohnya, mungkin dia anak bermasalah dari pemilik perusahaan besar yang di drop out dari sekolah lain? Jika seperti itu kasusnya, mungkin itulah kenapa hal ini disembunyikan.”
“Daiya, nggak baik berspekulasi kayak gitu; itu cuma prasangka burukmu saja. Maksudku, dia sudah dalam posisi yang dicurigai meskipun tanpa ‘bantuanmu’ seperti ini. Juga, semua orang diam-diam mendengarkan pembicaraan kira sekarang.”
“Ah? Kenapa aku harus peduli.”
Uwaaa…
Ketika aku mengalihkan pandanganku dari Daiya, bel berbunyi. Teman-teman sekelasku dengan cepat duduk di bangku mereka.
Kokone yang duduk di dekat jendela, membukanya dan mengintip keluar. Nampaknya dia ingin segera melihat siswa pindahan itu.
“Ooh!”
Dia tiba-tiba menaikkan suaranya—dia mungkin melihat ada seorang yang terlihat seperti siswa pindahan. Setelah mengucapkan “Ooh!” itu, Kokone kembali duduk di kursinya dan terdiam, meskipun dia baru saja terlihat bersemangat ketika mengintip dari jendela tadi.
Aku penasaran apa yang salah.
Kokone tersenyum dan menggumam “ini menajubkan!” Semua orang mungkin ingin segera tau, tapi saat ini wali kelas kami sudah masuk ruang kelas. Siluet seorang gadis terlihat dibalik jendela pintu yang buram. Itu harusnya siswa pindahan. Setelah melihat suasana kelas, tampaknya guru sadar jika semua orang merasa penasaran dengan orang yang berada di balik pintu, dan dengan cepat guru memanggilnya.
Siluet di belakang kaca buram itu bergerak.
Dan kemudian aku melihat—dia.

Seketika—
Pemandangan berubah sekali, seakan saat ini aku didorong dari ujung tebing.
Pertama, aku mendengar suara. Suara dari pemandangan yang tiba-tiba terkoyak. Dengan paksa, dengan kasar, sebuah gambar satu persatu masuk ke dalam pikiranku. Lagi dan lagi, pemandangan yang mirip muncul. Aku merasa jika kesadaranku terhempas, tapi tertarik lagi dan merapat kembali ke asalnya. Seperti kesadaranku dijejalkan dengan paksa ke dalam sebuah kotak logam kecil. Déjà vu. Déjà vu.
“Saya Aya Otonashi.” Aku mendengarmu.
“Saya Aya Otonashi.” Aku mendengarmu.
“Saya Aya Otonashi.” Cukup, aku sudah mendengarmu!
Aku menolak sejumlah informasi yang sangat banyak yang mencoba menyerbu kesadaranku. Maksudku, tak mungkin semua itu dapat masuk bersamaan. Otakku akan pecah. Aku tak dapat memprosesnya.
“Ah…”
Apa,
Hal apa in yang tak bisa kumengerti—apakah aku…?
Aku sadar jika pikiranku benar-benar telah bercampur-aduk dan memaksa menonaktifkan otakku—dan aku kembali.

Eh? Apa yang baru saja aku pikirkan?
Kehilangan serentetan kesadaran, aku kembali menatap depan kelas dan melihatnya lagi. Aku memandang siswa pindahan, Aya Otonashi, yang namanya belum aku ketahui.
“Aya Otonashi.”
Siswa pindahan itu menggumamkan namanya dalam suara yang lirih, seakan dia tidak peduli apakah kami mengerti atau tidak.
Aya Otonashi kembali dari depan kelas.
Perkenalan yang sangat-sangat singkat menimbulkan kegaduhan di dalam kelas.
Dia tidak peduli sedikitpun dengan teman sekelasnya yang menjadi liar membicarakannya, dan mulai berjalan.
Ke arahku.
Menatap langsung ke wajahku.
Dia secara natural duduk di kursi kosong di sampingku, seolah kursi ini memang telah disiapkan dari awal.
Otonashi-san cemberut dan menatapku secara mencurigakan sebagaimana aku memandangnya secara diam-diam, seperti seekor rusa yang telah ditandai.
… Aku kira, aku harus mengatakan sesuatu.
“… Err, senang bertemu denganmu.”
Kerut di dahinya sama sekali tidak berubah sedikitpun.
“Hanya itu saja??”
“Eh…?”
“Aku tanya apa hanya itu saja?”
Apa ada yang lain yang harus aku katakan? Jika memang ada, aku tetap tidak dapat memikirkan apapun. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya kami bertemu.
Tapi suasana memaksaku mengatakan sesuatu yang lain.
“……Err, seragammu. Apakah itu dari sekolahmu sebelumnya?”
Otonashi-san tidak memberi reaksi pada kata-kata gugupku dan hanya tetap memandang ke arahku.
“…Eh, hmmm?”
Melihat kebingunganku, Otonashi-san mengalihkan pandangan untuk suatu alasan dan tersenyum. Senyumnya terlihat seperti menunjukkan rasa keheranan terhadap anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Aku akan menceritakan sesuatu yang bagus Hoshino.”
…Eh? Aku belum memberi tahu namaku padanya.
Tapi pikiran itu berlalu bigitu saja. Otonashi-san mengatakan sesuatu yang membuatku duduk terdiam selama lima detik penuh.
“Kasumi Mogi hari ini menggunakan celana biru cerah.”

bersambung~

No comments:

Post a Comment